Selasa, 08 Desember 2009

Life is about choice...


Memaknai hidup. Berbagai pendapat bahkan penelitian diungkapkan oleh filsuf-filsuf yang memang menyumbangkan umurnya melakukan pekerjaan itu. Hidup rasanya bagai misteri yang terus menerus dijadikan objek pembahasan. Namun, semakin lama dibahas, malah semakin bingung kita dibuatnya. Suatu ketika sebuah teori bisa menjadi terasa cocok dalam memaknai kehidupan, namun terkadang, bahkan seringkali, bertentangan dengan fakta yang terbentang di hadapan.

Begitu pula bagi diriku, sebuah perjalanan gila-gilaan kulakukan dalam seperempat abad hidupku. Meaningfull?? No. That's the answer. Crazy. Mungkin kata itu yang tepat menggambarkan masa-masa suram sekaligus indah, yang sampai sekarang bingung aku ketika mengingatnya. Aku merasa seperti kupu-kupu yang merasakan metamorfosis dalam hidup. Ada saat menjadi kepompong, lalu menjadi ulat yang tak berhenti menggeliat, namun saat ini, belum rasanya aku sampai pada tahap menjadi kupu-kupu nan cantik. Well, tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Mungkin besok, atau entah kapan.

Namun, yang ingin kukatakan, bahwa berbeda setiap orang dalam memandang arti hidupnya. Tidak bisa kita melakukan gebyah uyah pada setiap pribadi. Karena hidup adalah mengenai bagaimana kita memilih. Hidup adalah rangkaian keputusan-keputusan yang kita pilih untuk dijalani. Namun, terkadang kita naif, menjustifikasi seseorang hanya karena perbedaan pilihan dalam memandang kehidupan. Kita dengan seenaknya memberikan label salah dan benar pada seseorang hanya karena pilihannya sesuai atau tidak sesuai dengan pilihan yang kita punya. Dengan semena-menanya kita menghakimi seseorang betul atau tidak, mulia atau hina, berbudi atau asusila. Hanya karena dia memiliki standar sendiri dalam hidup. Jengah rasanya melihat manusia, terasa begitu sombong merasa paling benar ketika menganggap dirinya sudah paling sesuai dengan kebanyakan orang yang mengaku berbudaya.

Hidup senantiasa berubah. Kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita. Disudutkan, dihina, dianggap remeh, dilabeli asusila, hina, tidak berbudaya. Mungkin yang hari ini dialami orang lain, akan kita rasakan beberapa waktu kemudian. Lantas, ketika itu menimpa kita apakah kita akan terima diperlakukan sama? tentu saja tidak. Karenanya, jangan cepat menjustifikasi, menghakimi, merendahkan orang lain, karena bukan tidak mungkin, kehidupan yang memihak kita suatu saat akan menginjak-injak kita.

(*terinspirasi dari kejadian akhir-akhir ini yang terasa....MEMUAKKAN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar