
Saat itu kepalaku penuh dengan banyak makian untuk satu kata. Teamwork. What a nonsense! Semua karena kejadian sore itu.
Setelah seharian berkeliling ke semua tempat pengukuran. Dan berakhir ke Santa Monica. Aku kembali ke main site di atas jam kerja seharusnya. Tapi tuntutan sampling yang sangat mendesak, harus dikirim besok pagi via charter flight, membuatku harus melanjutkan pekerjaan. Sampling terakhir kulakukan di Sediment Treatment Pond atau denotasinya tempat pembuangan limbah cair domestik. Terbayanglah limbah-limbah pencucian, sanitasi, yang juga berarti limbah manusia, air seni, ludah, ingus, juga mungkin air mani dan darah menstruasi akan berakhir sempurna disitu! Maaf, bukan sengaja membuat yang membaca ini muntah. Tapi that's the real condition.
Mengingat begitu banyak barang yang harus dibawa sendirian dan semuanya cukup besar. akhirnya, dengan pedenya aku datangi Enviro office, berharap minta bantuan berharap ada yang mau membantu setidaknya membawakan barang yang lumayan bejibun itu. Sebenarnya aku bukan tipe perempuan yang suka minta bantuan ini-itu. Tapi mengingat tanganku cuma dua (kecil pula...) dan harus membawa sampling equip tadi, makanya aku mencoba sedikit toleransi pada diriku sendiri.
Tapi, SUMPAHHH...!!!
Menyesal buang suara untuk minta tolong sama mereka. Ternyata, jawabannya cukup menyakitkan hati. "Dari tadi ngapain aja loe?"... "Ga dapat overtime, jadi sorry lah ya!"... and bla...bla...bla... Bullshit...!!! kalau memang tidak mau membantu, ya sudah, cukup bilang saja tidak mau. Malah komentar ini itu. Darahku segera saja meluncur naik menuju ubun-ubun. Seandainya kulit dan dagingku terbuat dari kaca yang tembus pandang, mereka bisa melihat, kecepatan darahku sepersekian detik sudah naik ke otak dan memenuhi semua isi kepalaku. Apalagi, ternyata saat itu mereka tidak sibuk bekerja, tapi BERMAIN!!! COUNTER STRIKE...!! EDANNNN....!!!
Haloo... apa kabar Teamwork, apa kabar Kekompakan team...! NONSENSE...BULLSHIT...!! Ingatanku masih sangat panas; Iwed, bantu bikin sambal kah,,, Iwed, bantu edit foto kah? Iwed, bantu bikin ini bikin itu kah?... Dan aku cuma tersenyum.
Sepanjang perjalanan, batinku terus mengamuk. Balasan seperti apa yang harus kubuat untuk mereka?? Tapi terus saja, nuraniku melancarkan demonstrasi dan berteriak, "Apa beda aku dan mereka? Sosok manusia tak tahu balas budi".
Akhirnya aku cuma bisa merenungi sifat sebagian manusia. Sosok yang oportunis, memandang semuanya berdasarkan apa yang menguntungkan bagi mereka, egois, dan tidak bisa memberi dan menerima. Di saat mereka membutuhkan, mereka memasang tampang menjijikkan kemudian memelas dipenuhi keinginannya. Namun di saat kondisi berbalik, 1001 alasan dibuatnya bahkan menjustifikasi ketidakmampuan seseorang yang hendak meminta pertolongan. Bagaimana bisa ada orang seperti itu hidup di dunia ini...?
Life is about take and give, hidup adalah saling memberi dan menerima. Mengapa tidak semua orang memiliki pemikiran seperti itu? Bukankah indah bila mengetahui kita berguna orang lain? Bukankah membahagiakan bila melihat orang lain bahagia karena kita. Bukan permasalahan reward atau ucapan terima kasih, tapi senyum orang lain karena kita telah menolongnya adalah benar-benar kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Yaa Allah, akhirnya aku cuma bisa memohon jauhkan hamba-Mu ini dari sifat seperti itu. Dan jadikan aku manusia yang berguna bagi manusia yang lain, karena bagiku kebahagiaan bukan cuma sekedar mendapatkan materi untuk diri pribadi, tapi bahagia menemukan diri sendiri sanggup menghadirkan matahari dalam hati dan jiwa insan-Mu yang lain.
*Inspired by digusting moment in the office