
7 bulan lalu, hidupku rasanya ringan seringan kapas. Setelah meyakinkan diri bahwa tak mungkin lagi mengharap yang telah pergi. Setelah mengokohkan hati bahwa Allah pastilah sengaja merancang skenario yang bagi manusia sepertiku sangatlah pahit, bahkan untuk menelan ludah saja aku tak mampu. Pahit, benar-benar sangat pahit.
Waktu demi waktu bergulir seiring dengan sembuhnya luka hati. Perlahan-lahan rona wajahku kembali, semangat hidupku menyapa lagi, bahkan tawa lepasku juga hadir lagi. Menyebut nama seseorang yang pernah menyakiti hati juga kini tak membuatku sesak dan sakit lagi. Biasa, sangat biasa. Kuanggap sebagai masa lalu yang membuat hidupku jadi berwarna-warni.
Keyakinan bahwa hidupku harus terus berlanjut terus memompa denyut nadiku. Hanya diriku yang harus kuandalkan dalam membentuk masa depan. Bukan siapa-siapa. Mama, Bapak, Kakak dan adik menjadi penyemangat dalam perlombaan marathon kehidupanku. Merekalah yang paling berharga yang pernah aku miliki. Yang terus berdiri disisiku ketika aku jatuh dan terpuruk. Segala pujian dan terima kasih tak terhingga kuunggah untuk mereka.
Namun, ketika memasuki Maret 2010, seseorang hadir dalam hatiku, bertahta dan menari-nari indah dalam benakku. Senyum, anggun lakunya, halusnya tutur kata dan kesederhanaannya begitu menggugahku. Membuatku merasa beruntung mengenalnya. Tatkala sikapnya yang menurutku "tak biasa" merayu-rayu jiwaku, aku merasakan panggilan-panggilan nuraniku untuk menyimpan sebuah kata, HARAPAN.
Tentu saja harapan untuk memiliki hatinya, auranya, dan semua yang indah pada dirinya. Kupaksakan otak kiriku untuk menunggu... menunggu... dan menunggu. Dan otak kananku terus merangkai khayalan-khayalan indah tentangnya. Andaikan, jika, bila saja... kalau... dan kalau lagi, yang tak pernah berhenti. Terus saja seperti itu. Sementara, sang "DIA" tak sedikitpun peduli. Menyibukkan dirinya dalam dunianya, tanpa menoleh sedikitpun padaku.
Hingga hari ini, penantianku mencapai satu episode, dimana aku mengingat babak-babak hidupku diawal 2007. Ketika pertama mengenal dan memulai merasakan "sesuatu" terhadap si pembuat sakit hati.
Sama. Benar-benar sama. Tanpa ucap kata kepastian, tapi sikapnya "menjebakku". Bayang-bayang kelam memenuhi imajinasiku, menyergapku dari segala penjuru. Sesak, dan sesak lagi. Ya Allah, aku tak ingin mengulangnya lagi. Cukup...! Tak boleh ada lagi penantian-penantian bodoh yang menyiksa hati. Hatiku terlalu sehat untuk disakiti lagi. Bukan, bukan aku menjadi orang yang mudah menyerah, tapi, aku ingin menjadi sangat rasional. Rasional terhadap diriku sendiri.
Saat ini, titik nadirku tiba. Semuanya harus ditata lagi. Pikiran-pikiran bodoh yang dirancang otak kiri akibat hasutan lembut sang otak kananku harus kubuang jauh-jauh. Sangat jauh. Nama itu harus kuhapus perlahan-lahan. Perasaanku harus kukembalikan ke tempatnya semula. Semuanya harus kembali ke 7 bulan lalu, saat tak ada apa-apa di hatiku. Saat hidupku terasa ringan seringan kapas. Saat tak ada desiran-desiran aneh dalam hati. Saat senandung hati hanya kepada Sang Maha Kuasa. Saat benak, lahir batinku, semuanya berisikan lagu-lagu untuk mama dan bapakku. Ya Allah kuatkan tekadku untuk membuat semuanya menjadi "normal" kembali...
Esok, akan kusambut pagi beserta matahari yang akan menghangatkan kalbuku, juga kusapa tetesan embun yang akan kubalur dalam jiwaku agar bersih kembali, karena semuanya telah usai...
Usai.
(yaa Allah, tolonglah hambamu yang lemah ini... Mama, tiba-tiba aku sangat merindukanmu...)
Waktu demi waktu bergulir seiring dengan sembuhnya luka hati. Perlahan-lahan rona wajahku kembali, semangat hidupku menyapa lagi, bahkan tawa lepasku juga hadir lagi. Menyebut nama seseorang yang pernah menyakiti hati juga kini tak membuatku sesak dan sakit lagi. Biasa, sangat biasa. Kuanggap sebagai masa lalu yang membuat hidupku jadi berwarna-warni.
Keyakinan bahwa hidupku harus terus berlanjut terus memompa denyut nadiku. Hanya diriku yang harus kuandalkan dalam membentuk masa depan. Bukan siapa-siapa. Mama, Bapak, Kakak dan adik menjadi penyemangat dalam perlombaan marathon kehidupanku. Merekalah yang paling berharga yang pernah aku miliki. Yang terus berdiri disisiku ketika aku jatuh dan terpuruk. Segala pujian dan terima kasih tak terhingga kuunggah untuk mereka.
Namun, ketika memasuki Maret 2010, seseorang hadir dalam hatiku, bertahta dan menari-nari indah dalam benakku. Senyum, anggun lakunya, halusnya tutur kata dan kesederhanaannya begitu menggugahku. Membuatku merasa beruntung mengenalnya. Tatkala sikapnya yang menurutku "tak biasa" merayu-rayu jiwaku, aku merasakan panggilan-panggilan nuraniku untuk menyimpan sebuah kata, HARAPAN.
Tentu saja harapan untuk memiliki hatinya, auranya, dan semua yang indah pada dirinya. Kupaksakan otak kiriku untuk menunggu... menunggu... dan menunggu. Dan otak kananku terus merangkai khayalan-khayalan indah tentangnya. Andaikan, jika, bila saja... kalau... dan kalau lagi, yang tak pernah berhenti. Terus saja seperti itu. Sementara, sang "DIA" tak sedikitpun peduli. Menyibukkan dirinya dalam dunianya, tanpa menoleh sedikitpun padaku.
Hingga hari ini, penantianku mencapai satu episode, dimana aku mengingat babak-babak hidupku diawal 2007. Ketika pertama mengenal dan memulai merasakan "sesuatu" terhadap si pembuat sakit hati.
Sama. Benar-benar sama. Tanpa ucap kata kepastian, tapi sikapnya "menjebakku". Bayang-bayang kelam memenuhi imajinasiku, menyergapku dari segala penjuru. Sesak, dan sesak lagi. Ya Allah, aku tak ingin mengulangnya lagi. Cukup...! Tak boleh ada lagi penantian-penantian bodoh yang menyiksa hati. Hatiku terlalu sehat untuk disakiti lagi. Bukan, bukan aku menjadi orang yang mudah menyerah, tapi, aku ingin menjadi sangat rasional. Rasional terhadap diriku sendiri.
Saat ini, titik nadirku tiba. Semuanya harus ditata lagi. Pikiran-pikiran bodoh yang dirancang otak kiri akibat hasutan lembut sang otak kananku harus kubuang jauh-jauh. Sangat jauh. Nama itu harus kuhapus perlahan-lahan. Perasaanku harus kukembalikan ke tempatnya semula. Semuanya harus kembali ke 7 bulan lalu, saat tak ada apa-apa di hatiku. Saat hidupku terasa ringan seringan kapas. Saat tak ada desiran-desiran aneh dalam hati. Saat senandung hati hanya kepada Sang Maha Kuasa. Saat benak, lahir batinku, semuanya berisikan lagu-lagu untuk mama dan bapakku. Ya Allah kuatkan tekadku untuk membuat semuanya menjadi "normal" kembali...
Esok, akan kusambut pagi beserta matahari yang akan menghangatkan kalbuku, juga kusapa tetesan embun yang akan kubalur dalam jiwaku agar bersih kembali, karena semuanya telah usai...
Usai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar