Sabtu, 31 Juli 2010

Andai Saja

Seandainya bisa dihapus seperti menghapus coretan pensil di atas selembar kertas, mungkin itu akan kulakukan. Namun, hati ini tidak mau berkompromi. Sedikitpun tidak. Kupandangi fotonya dalam-dalam, merinci tiap alur gurat-gurat wajahnya, mencari-cari kesalahan dalam cetak biru rupanya, juga kembali mengingat moment tentangnya, sampai mengurutkan detik-detik, mencoba menemukan jawaban apakah ada saat dimana ia telah membuat kesalahan nyata? Dan aku gagal. Jawabannya jelas. Dia telah memiliki hatiku, tanpa sedikitpun menyisakan sepenggal untukku.

Kini, malamku semakin panjang dengan lamunan tentangnya. Mulutku menolak semua cita rasa makanan yang enak sekali pun. Bahkan, entah mengapa tetes demi tetes airmata terjatuh tanpa sadar. Semua tentangnya membuatku semakin tersiksa menahan perasaan tak berbalas. Yang entah mengapa kunikmati rasa sakitnya.Tak ada alasan sama sekali, kenapa. Semakin kutanya semakin bingung aku. Padahal, kata "tidak"nya telah menghentikan semangatku. Telah menyurutkan hatiku untuk bertahan.

Akhirnya logikaku menyerah pada perasaanku. Asalkan dia, ya, asalkan untuk dia hati ini kujaga...

Satu tanya yang tersisa,
Mr. Keep Spirit, apa yang telah kau lakukan dengan hatiku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar