Sudah September.
Sebulan tidak menulis, rasanya kaku mau menulis lagi. Terlalu banyak peristiwa yang terlewat begitu saja, yang sayangnya terlewat untuk kutuliskan disini. Sangat malas membiarkan jari-jari ini menari-nari di atas tuts komputer.
Ramadhan telah berlalu berganti Syawal yang syahdu. Di akhir Ramadhan, tiba-tiba "my lovely grandma" jatuh sakit. Sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, biasanya beliau sangat bersemangat menyambut seluruh keluarga dekat maupun jauh, tetangga-tetangga, meyalami satu-persatu kanak-kanak yang bergembira mencium tangannya. Maklum, beliaulah kini yang tertua dan masih tersisa, yang lainnya telah kembali ke Rahmatullah. Namun, kali ini, dengan senyum yang dipaksakan karena menahan sakit yang tak terperi, beliau menyambut orang-orang yang beliau kasihi...
Disampingnya, aku hanya bisa berusaha tersenyum, menahan tangis hingga sakit tenggorokanku. Mengenalkan satu-persatu orang-orang yang menyalaminya. Sakit nenek membuatnya tiba-tiba kehilangan kekuatan ingatannya! Yang diingatnya hanyalah diriku... Ibuku juga bahkan tak dikenalinya... Setiap saat dzikir kulantunkan di telinganya, menjaganya agar tetap mengingat Allah azza wa jalla. Nenek, saat itu selusin do'a kurangkaikan dan kukirim ke arasy-Nya untuk kesembuhanmu. Aku belum ingin berpisah denganmu...
Dalam shalatku, tak henti kupintakan kesehatanmu. Dan Allah mengabulkannya! Kini, setelah kembali ke tempat tugasku, kudengar kesehatanmu perlahan-lahan kembali pulih. Sujud syukur kusembahkan pada Pencipta Langit dan Bumi. Semoga saat ku kembali nanti kau masih tetap menyambutku dengan senyum hangat menenangkan milikmu yang selalu kurindukan. Amin.
Sebulan tidak menulis, rasanya kaku mau menulis lagi. Terlalu banyak peristiwa yang terlewat begitu saja, yang sayangnya terlewat untuk kutuliskan disini. Sangat malas membiarkan jari-jari ini menari-nari di atas tuts komputer.
Ramadhan telah berlalu berganti Syawal yang syahdu. Di akhir Ramadhan, tiba-tiba "my lovely grandma" jatuh sakit. Sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, biasanya beliau sangat bersemangat menyambut seluruh keluarga dekat maupun jauh, tetangga-tetangga, meyalami satu-persatu kanak-kanak yang bergembira mencium tangannya. Maklum, beliaulah kini yang tertua dan masih tersisa, yang lainnya telah kembali ke Rahmatullah. Namun, kali ini, dengan senyum yang dipaksakan karena menahan sakit yang tak terperi, beliau menyambut orang-orang yang beliau kasihi...
Disampingnya, aku hanya bisa berusaha tersenyum, menahan tangis hingga sakit tenggorokanku. Mengenalkan satu-persatu orang-orang yang menyalaminya. Sakit nenek membuatnya tiba-tiba kehilangan kekuatan ingatannya! Yang diingatnya hanyalah diriku... Ibuku juga bahkan tak dikenalinya... Setiap saat dzikir kulantunkan di telinganya, menjaganya agar tetap mengingat Allah azza wa jalla. Nenek, saat itu selusin do'a kurangkaikan dan kukirim ke arasy-Nya untuk kesembuhanmu. Aku belum ingin berpisah denganmu...
Dalam shalatku, tak henti kupintakan kesehatanmu. Dan Allah mengabulkannya! Kini, setelah kembali ke tempat tugasku, kudengar kesehatanmu perlahan-lahan kembali pulih. Sujud syukur kusembahkan pada Pencipta Langit dan Bumi. Semoga saat ku kembali nanti kau masih tetap menyambutku dengan senyum hangat menenangkan milikmu yang selalu kurindukan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar