Waktu terus saja menunjukkan kesaktiannya. Tak menyangka aku saat ini kembali tiba pada situasi yang sama. Namun kali ini ada berbeda. Semuanya berjalan lembut, tak ada ketergesa-gesaan, tak ada hasrat yang menggebu-gebu, hanyalah ketenangan. Bahkan penuh kerahasiaan.
Tak menyangka, dalam perjalanan yang penuh teka-teki, ia menemukanku, meyakinkanku, dan membuktikan bahwa dirinya punya perasaan yang luar biasa besar, hati yang seputih mutiara dan rasa takut kehilangan yang teramat dalam. Meski sebagian besar orang mencelanya, mungkin karena fisiknya, bukan, bukan karena ia cacat, tidak sama sekali !! Hanya ia tak punya cukup banyak waktu untuk mempedulikan itu semua, dan memang ada alasan kuat yang membuatnya lebih baik harus seperti itu. Dan herannya, aku memahaminya...!!
Padahal dulu, aku juga bergabung dengan barisan orang-orang yang mencelanya, memandang remeh, menghina dan merendahkannya. Menertawakan gayanya, tutur katanya, bahkan sampai terbahak-bahak menahan perut. Ternyata, aku salah besar...!!
Dibalik semua package yang ia pakai membalut tubuh serta perangainya, ada mutiara. Benar sekali ada mutiara. Ketajaman dan kecerdasan pola pikirnya, dedikasi penuh pada pekerjaannya, keihklasan untuk menerima anugerah maupun ujian Allah padanya, kelembutan tutur kata dan perhatiannya, kesabarannya menghadapiku, serta tentu saja kebesaran hatinya untuk menerima semua kekuranganku, membuatku tarpana, terheran-heran, mendapati rasa malu yang tiba-tiba menyergap diriku. Dia begitu berkilau dengan kesahajaannya. Ah, benar kata mereka yang bijak, Don't judge the book from the cover...!!!
Ya Allah, maafkan aku telah menghina ciptaan-Mu. Terngiang-ngiang dalam benakku, saat ia membisikkan kata yang begitu menyentakku... "Diatas langit masih ada langit..."
Ya Allah, aku benar-benar malu. Bagaimana bisa orang yang mengaku berpendidikan sepertiku bisa bersikap rendah seperti itu. Kini, perlahan-lahan rasaku tiba pada perhentian yang menyenangkan. Membelai-belai perasaan, terutama pikiranku yang picik dan sempit. Aku mulai mengakui walaupun mungkin hanya dalam bisik yang mendesir laksana angin lalu. Walaupun dengan wajah memerah menahan malu juga tergelitik gengsi yang luar biasa... Hmm...
Tak menyangka, dalam perjalanan yang penuh teka-teki, ia menemukanku, meyakinkanku, dan membuktikan bahwa dirinya punya perasaan yang luar biasa besar, hati yang seputih mutiara dan rasa takut kehilangan yang teramat dalam. Meski sebagian besar orang mencelanya, mungkin karena fisiknya, bukan, bukan karena ia cacat, tidak sama sekali !! Hanya ia tak punya cukup banyak waktu untuk mempedulikan itu semua, dan memang ada alasan kuat yang membuatnya lebih baik harus seperti itu. Dan herannya, aku memahaminya...!!
Padahal dulu, aku juga bergabung dengan barisan orang-orang yang mencelanya, memandang remeh, menghina dan merendahkannya. Menertawakan gayanya, tutur katanya, bahkan sampai terbahak-bahak menahan perut. Ternyata, aku salah besar...!!
Dibalik semua package yang ia pakai membalut tubuh serta perangainya, ada mutiara. Benar sekali ada mutiara. Ketajaman dan kecerdasan pola pikirnya, dedikasi penuh pada pekerjaannya, keihklasan untuk menerima anugerah maupun ujian Allah padanya, kelembutan tutur kata dan perhatiannya, kesabarannya menghadapiku, serta tentu saja kebesaran hatinya untuk menerima semua kekuranganku, membuatku tarpana, terheran-heran, mendapati rasa malu yang tiba-tiba menyergap diriku. Dia begitu berkilau dengan kesahajaannya. Ah, benar kata mereka yang bijak, Don't judge the book from the cover...!!!
Ya Allah, maafkan aku telah menghina ciptaan-Mu. Terngiang-ngiang dalam benakku, saat ia membisikkan kata yang begitu menyentakku... "Diatas langit masih ada langit..."
Ya Allah, aku benar-benar malu. Bagaimana bisa orang yang mengaku berpendidikan sepertiku bisa bersikap rendah seperti itu. Kini, perlahan-lahan rasaku tiba pada perhentian yang menyenangkan. Membelai-belai perasaan, terutama pikiranku yang picik dan sempit. Aku mulai mengakui walaupun mungkin hanya dalam bisik yang mendesir laksana angin lalu. Walaupun dengan wajah memerah menahan malu juga tergelitik gengsi yang luar biasa... Hmm...