Selasa, 18 Mei 2010

Alhamdulillah...


Manusia hanya bisa berencana, Allah-lah "The Great Creator" yang menetapkan segalanya. Ada banyak hal di dunia ini yang terasa meyakinkan di mata manusia. Rezeki, jodoh, bahkan kematian yang secara implisit manusia merasa bisa menentukannya. Sungguh, manusia begitu percaya diri mengira, Allah hanya sekedar pengetuk palu, bahwa Allah tidak menetapkan lika-liku garis kehidupan yang harus dititinya. Tatkala itu tidak sesuai dengan keinginannya, seakan hatinya menghujat Allah, menuduh Allah tidak adil, juga tidak menyayanginya. Astaghfirullah al azhim...

Begitulah manusia. Tak terpikir olehnya selalu saja ada skenario besar untuknya. Selalu saja ada barter yang luar biasa di atas keinginan sesaatnya, yang dipanjatkan atas puja-pujinya pada Sang Maha Pencipta. Atau mungkin saja, peringatan untuknya bahwa porsi bersyukurnya masih dibawah standar kalau tidak mau dibilang tidak ada. Allah, Ilah yang Maha Adil. Bagi-Nya, mudah baginya memberikan apa yang diinginkan manusia saat itu juga. Kun fayakun, jadilah maka jadilah... Tapi, apakah manusia tahu hakikat segala sesuatu yang baik menurutnya hari ini, bisa jadi buruk baginya di masa nanti...?

Serangkaian pengalaman mengajak nuraniku untuk sejenak berkontemplasi merenungi semuanya. Garis takdir Allah untukku... Walau masih ada saja massa keberatan bergelayut dalam hati dan pikiran, aku harus bersyukur, aku harus memaksa, mendorong dan menyemangati tiap tetes dalam darahku untuk berseru puji syukur kepada-Nya. Aku juga harus merayu hati, otak, serta otot wajahku untuk terus tersenyum. Semua dari-Nya adalah yang terbaik, semua kreasi-Nya adalah indah, meski kadang kasat mata, namun, hanya dengan ikhlas-lah aku dapat membacanya...

Yaa Allah, jadikan aku hamba-Mu yang pandai bersyukur. Fasihkan lidah hamba dengan seruan Alhamdulillah yang tak pernah putus. Jadikan hamdalah itu, mengalir terus karena dipompa denyut nadiku, menguasai segenap jantung, hati, serta semua organ tubuhku. Apa yang terjadi hari ini, mungkin suatu saat akan kusyukuri. Engkaulah yang tahu dengan pasti apa yang terbaik untukku. Engkaulah yang sangat paham aku dan semua kehidupanku. Allah yaa Rabbi, pada-Mu hamba berserah diri dan pada-Mu kuserahkan semua masalah dan bahagiaku, senyum dan tangisku, sempit dan lapangku, segalanya, semuanya dari diriku adalah milik-Mu.... Dengan senyum kuterima semuanya...

Senin, 17 Mei 2010

Elegi si Burung dan Mawar Putih


Seorang teman bercerita padaku :

Suatu ketika ada seekor burung jatuh cinta pada setangkai mawar putih. Si burung pun kemudian mengungkapkan perasaannya kepada sang mawar putih, akan tetapi mawar putih berkata, " Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu"

Si burung tidak menyerah begitu saja. Setiap hari, dia mendatangi mawar putih hanya untuk bertemu dan memandang mawar putih. Terus seperti itu. Sehingga, datang saat mawar putih berkata, " Aku akan mencintai kamu, jika kamu mampu mengubahku menjadi mawar merah..."

Setelah waktu berlalu, burung pun kembali menemui mawar putih, dia kemudian memotong kedua sayapnya dan menebarkan darahnya pada mawar putih, hingga mawar putih pun berubah menjadi merah.

Akhirnya, mawar putih pun sadar seberapa besar cinta si burung untuk dirinya. Tapi semuanya telah terlambat, karena tak selang berapa lama si burung menjemput ajalnya, dan tak akan pernah kembali ke dunia.

Teman saya itu pun mengatakan pada saya, hargailah siapapun yang mencintai kamu, sebelum dia pergi meninggalkanmu untuk selamanya...

*Thank's a lot to him who told me a beautiful story...

Sabtu, 15 Mei 2010

Life is about take and give



Saat itu kepalaku penuh dengan banyak makian untuk satu kata. Teamwork. What a nonsense! Semua karena kejadian sore itu.

Setelah seharian berkeliling ke semua tempat pengukuran. Dan berakhir ke Santa Monica. Aku kembali ke main site di atas jam kerja seharusnya. Tapi tuntutan sampling yang sangat mendesak, harus dikirim besok pagi via charter flight, membuatku harus melanjutkan pekerjaan. Sampling terakhir kulakukan di Sediment Treatment Pond atau denotasinya tempat pembuangan limbah cair domestik. Terbayanglah limbah-limbah pencucian, sanitasi, yang juga berarti limbah manusia, air seni, ludah, ingus, juga mungkin air mani dan darah menstruasi akan berakhir sempurna disitu! Maaf, bukan sengaja membuat yang membaca ini muntah. Tapi that's the real condition.

Mengingat begitu banyak barang yang harus dibawa sendirian dan semuanya cukup besar. akhirnya, dengan pedenya aku datangi Enviro office, berharap minta bantuan berharap ada yang mau membantu setidaknya membawakan barang yang lumayan bejibun itu. Sebenarnya aku bukan tipe perempuan yang suka minta bantuan ini-itu. Tapi mengingat tanganku cuma dua (kecil pula...) dan harus membawa sampling equip tadi, makanya aku mencoba sedikit toleransi pada diriku sendiri.

Tapi, SUMPAHHH...!!!
Menyesal buang suara untuk minta tolong sama mereka. Ternyata, jawabannya cukup menyakitkan hati. "Dari tadi ngapain aja loe?"... "Ga dapat overtime, jadi sorry lah ya!"... and bla...bla...bla... Bullshit...!!! kalau memang tidak mau membantu, ya sudah, cukup bilang saja tidak mau. Malah komentar ini itu. Darahku segera saja meluncur naik menuju ubun-ubun. Seandainya kulit dan dagingku terbuat dari kaca yang tembus pandang, mereka bisa melihat, kecepatan darahku sepersekian detik sudah naik ke otak dan memenuhi semua isi kepalaku. Apalagi, ternyata saat itu mereka tidak sibuk bekerja, tapi BERMAIN!!! COUNTER STRIKE...!! EDANNNN....!!!

Haloo... apa kabar Teamwork, apa kabar Kekompakan team...! NONSENSE...BULLSHIT...!! Ingatanku masih sangat panas; Iwed, bantu bikin sambal kah,,, Iwed, bantu edit foto kah? Iwed, bantu bikin ini bikin itu kah?... Dan aku cuma tersenyum.

Sepanjang perjalanan, batinku terus mengamuk. Balasan seperti apa yang harus kubuat untuk mereka?? Tapi terus saja, nuraniku melancarkan demonstrasi dan berteriak, "Apa beda aku dan mereka? Sosok manusia tak tahu balas budi".

Akhirnya aku cuma bisa merenungi sifat sebagian manusia. Sosok yang oportunis, memandang semuanya berdasarkan apa yang menguntungkan bagi mereka, egois, dan tidak bisa memberi dan menerima. Di saat mereka membutuhkan, mereka memasang tampang menjijikkan kemudian memelas dipenuhi keinginannya. Namun di saat kondisi berbalik, 1001 alasan dibuatnya bahkan menjustifikasi ketidakmampuan seseorang yang hendak meminta pertolongan. Bagaimana bisa ada orang seperti itu hidup di dunia ini...?

Life is about take and give, hidup adalah saling memberi dan menerima. Mengapa tidak semua orang memiliki pemikiran seperti itu? Bukankah indah bila mengetahui kita berguna orang lain? Bukankah membahagiakan bila melihat orang lain bahagia karena kita. Bukan permasalahan reward atau ucapan terima kasih, tapi senyum orang lain karena kita telah menolongnya adalah benar-benar kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Yaa Allah, akhirnya aku cuma bisa memohon jauhkan hamba-Mu ini dari sifat seperti itu. Dan jadikan aku manusia yang berguna bagi manusia yang lain, karena bagiku kebahagiaan bukan cuma sekedar mendapatkan materi untuk diri pribadi, tapi bahagia menemukan diri sendiri sanggup menghadirkan matahari dalam hati dan jiwa insan-Mu yang lain.

*Inspired by digusting moment in the office

Kamis, 13 Mei 2010

* Sutera Kasih *


Kian lama terpenjara mencari makna cinta,

Dalam ungkap kata bersulam dusta

Hingga gerbang rahmat terbuka

Menjelma cinta suci sehalus dan selembut sutera kasih


Terbentanglah, tersingkap kebenaran

Terlerailah, terbenam kepalsuan


Tuhan...

Pada Mu ada kedamaian

Di ribaan Mu kebahagiaan

Tiada lagi rasa kesangsian di hati

Cinta Mu, cinta tulus suci murni

Kasih Mu nan abadi


Bertautlah, perjambangan cinta

Mengalun dalam jiwa

Menemukan kerinduan syahdu

Pada Yang Maha Esa


Sutera kasih membelai,

Membalut kedukaan itu

Sutera melambai mengisi kekosongan pengharapan


Jangan pasrahkan kehidupan

Mengarungi cabaran,

Rintangan perjalanan di hadapan


Do’a dan tetes air mata,

Mendamba sutera kasih

Agar terus bersemi selamanya



**(Yaa Allah, kuatkanlah hambaMu...)

Rabu, 12 Mei 2010

Usai


7 bulan lalu, hidupku rasanya ringan seringan kapas. Setelah meyakinkan diri bahwa tak mungkin lagi mengharap yang telah pergi. Setelah mengokohkan hati bahwa Allah pastilah sengaja merancang skenario yang bagi manusia sepertiku sangatlah pahit, bahkan untuk menelan ludah saja aku tak mampu. Pahit, benar-benar sangat pahit.

Waktu demi waktu bergulir seiring dengan sembuhnya luka hati. Perlahan-lahan rona wajahku kembali, semangat hidupku menyapa lagi, bahkan tawa lepasku juga hadir lagi. Menyebut nama seseorang yang pernah menyakiti hati juga kini tak membuatku sesak dan sakit lagi. Biasa, sangat biasa. Kuanggap sebagai masa lalu yang membuat hidupku jadi berwarna-warni.

Keyakinan bahwa hidupku harus terus berlanjut terus memompa denyut nadiku. Hanya diriku yang harus kuandalkan dalam membentuk masa depan. Bukan siapa-siapa. Mama, Bapak, Kakak dan adik menjadi penyemangat dalam perlombaan marathon kehidupanku. Merekalah yang paling berharga yang pernah aku miliki. Yang terus berdiri disisiku ketika aku jatuh dan terpuruk. Segala pujian dan terima kasih tak terhingga kuunggah untuk mereka.

Namun, ketika memasuki Maret 2010, seseorang hadir dalam hatiku, bertahta dan menari-nari indah dalam benakku. Senyum, anggun lakunya, halusnya tutur kata dan kesederhanaannya begitu menggugahku. Membuatku merasa beruntung mengenalnya. Tatkala sikapnya yang menurutku "tak biasa" merayu-rayu jiwaku, aku merasakan panggilan-panggilan nuraniku untuk menyimpan sebuah kata, HARAPAN.

Tentu saja harapan untuk memiliki hatinya, auranya, dan semua yang indah pada dirinya. Kupaksakan otak kiriku untuk menunggu... menunggu... dan menunggu. Dan otak kananku terus merangkai khayalan-khayalan indah tentangnya. Andaikan, jika, bila saja... kalau... dan kalau lagi, yang tak pernah berhenti. Terus saja seperti itu. Sementara, sang "DIA" tak sedikitpun peduli. Menyibukkan dirinya dalam dunianya, tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Hingga hari ini, penantianku mencapai satu episode, dimana aku mengingat babak-babak hidupku diawal 2007. Ketika pertama mengenal dan memulai merasakan "sesuatu" terhadap si pembuat sakit hati.

Sama. Benar-benar sama. Tanpa ucap kata kepastian, tapi sikapnya "menjebakku". Bayang-bayang kelam memenuhi imajinasiku, menyergapku dari segala penjuru. Sesak, dan sesak lagi. Ya Allah, aku tak ingin mengulangnya lagi. Cukup...! Tak boleh ada lagi penantian-penantian bodoh yang menyiksa hati. Hatiku terlalu sehat untuk disakiti lagi. Bukan, bukan aku menjadi orang yang mudah menyerah, tapi, aku ingin menjadi sangat rasional. Rasional terhadap diriku sendiri.

Saat ini, titik nadirku tiba. Semuanya harus ditata lagi. Pikiran-pikiran bodoh yang dirancang otak kiri akibat hasutan lembut sang otak kananku harus kubuang jauh-jauh. Sangat jauh. Nama itu harus kuhapus perlahan-lahan. Perasaanku harus kukembalikan ke tempatnya semula. Semuanya harus kembali ke 7 bulan lalu, saat tak ada apa-apa di hatiku. Saat hidupku terasa ringan seringan kapas. Saat tak ada desiran-desiran aneh dalam hati. Saat senandung hati hanya kepada Sang Maha Kuasa. Saat benak, lahir batinku, semuanya berisikan lagu-lagu untuk mama dan bapakku. Ya Allah kuatkan tekadku untuk membuat semuanya menjadi "normal" kembali...

Esok, akan kusambut pagi beserta matahari yang akan menghangatkan kalbuku, juga kusapa tetesan embun yang akan kubalur dalam jiwaku agar bersih kembali, karena semuanya telah usai...


Usai.
(yaa Allah, tolonglah hambamu yang lemah ini... Mama, tiba-tiba aku sangat merindukanmu...)

Minggu, 09 Mei 2010

Me and Red Uniform





Lima tahun lalu, merah adalah warna yang paling ane benci. Gak tahu tuch, gak suka aja warnanya. Dominan, kuat, terlalu menarik perhatian dan mengintimidasi. Bikin pusing aja. Itu lima tahun yang lalu sodara-sodara. Setelah kejadian buruk dalam kehidupan ane (baca : ditinggal kawin pacar yang waktu itu beloved banget dech, catet waktu itu, sekarang not anymore! hihihi... ketakutan banget seh, kalo diartiin laen sama someone) Ane bertekad, gak bakalan mau unhappy sementara "syaithan terkutuk" itu tertawa-tawa! hehehe... lebay!

Merah sebagai warna tanda keberanian jadi favorit buat dipake kemana-mana, mo nunjukin I'm single and verry happy (sorry mbak Oppie : minjem istilahnya) sekalian mo kasih tahu berlalulah masa hitam kelam, gelap gulita, walopun warna hitam masih jadi top choice juga... Plus, ternyata seragam baru kantor diganti dari biru dongker jadi merah menyala! Lengkap sudah.

Alhasil, berposelah ane dengan berbagai macam gaya and lokasi dengan seragam merah tercinta ini. hahaha... narcis sih! tapi peduli amirrr.... Go Red... Go Red... Go Red...!

Jumat, 07 Mei 2010

Once upon a time, when you confused about...


I can't hold my heart !
Maybe that's a match sentence to express what I felt. Absolutely crazy,,, oh no, it's disgusting...!! How, if your mind full of someone and always kept to missing him , and then get a big wishes to get his message. What a poor girl...! I hate this. And what he said, just "Take it easy...!" Huffttt... make you like becoming someone who haven't self esteem. Sucks...!

Why this feeling becoming a trouble? I don't know...!
Logically, when someone went for a while, and should back to same place with you, there is no reason to think missed. And you just waiting for the time passed and be together again. You must thinking to give him, a space for his own life, and what you do? Just do your track...!

The important thing, that make everything easily if you only praying to God for his safety and he will enjoy his time. Maybe really nice to remember what a Bob Marley's said, "Everything gonna be alright...!". See, that easy to do yeah...? Please just calm down, take a deep breath, and keep believe that the time will answer every task...

"Keep spirit...!"